Cerita LAGARA yang Berumur Pendek dan Ditinggalkan

DSC02808

Rumput laut merupakan hasil komoditas utama masyarakat desa Kayang. Dalam bahasa lokal, rumput laut disebut Lagara. Selama bertahun-tahun, masyarakat sangat menggantungkan hidupnya pada budidaya rumput laut. Hasil budidaya telah mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Dan bahkan banyak dari mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke tanah Jawa. Karena begitu menjanjikan, masyarakat terus belomba-lomba membuka lahan baru dan menggantung lebih banyak bibit sehingga mampu memberi penghasilan yang lebih. Siang malam, mereka habiskan harinya di laut untuk memelihara rumput lautnya. Semua orang seakan tak mau meninggalkan rumput laut atau Lagara tersebut.

Hal yang sangat bertentangkan justru terjadi pada LAGARA yang saya ingin ceritakan berikut ini. Sebuah Lagara yang berumur pendek dan ditinggalkan.

Cerita saya mulai di awal Semester Genap Tahun Ajaran 2013-2014. Saat itu, saya mengumpulkan siswa untuk merencanakan kembali program majalah dinding yang sempat gagal di semester ganjil. Tidak seperti semester lalu, kali ini saya hanya melibatkan beberapa siswa terpilih saja. Saya mencoba menjelaskan rincian dan manfaat majalah dinding dan memotivasi mereka. Setelah kurang lebih setengah jam, kami sepakat memilih ketua tim, pemilihan tema yaitu “New Year, New Hope”, pembagian tugas, dan menyusun jadwal pencarian dan penyusunan informasi.

Kesokan harinya, siswa mulai mencari informasi dan menyusun informasi yang di dapatnya menjadi sebuah tulisan. Ada beberapa siswa yang memang cepat. Ada beberapa yang memang perlu dimotivasi. Setiap hari saya membuat janji dengan siswa yang berbeda untuk membicarakan masalah tugas yang mereka dapat. Setelah hampir dua minggu, seluruh tulisan siswa akhirnya terkumpul.

Setelah itu, saya mulai proses editing. Saya mengajak guru Bahasa Indonesia, Nurul Qomariah, dan teman SM-3T, I Made Sudiartha, untuk mengedit tulisan siswa. Mungkin karena pertama kali, siswa masih sangat kesulitan mengelaborasi topik tulisan. Mereka juga kesulitan menggunakan bahasa dengan ejaan yang baku. Oleh karena itu, kami harus bekerja keras untuk mengembangkannya lagi dengan menambahkan dan mengurangi beberapa hal dalam tulisan mereka. Hal ini kami lakukan secara sengaja dan kami rasa wajar karena kami ingin membuat mading yang pertama ini sebagai contoh dengan tulisan-tulisan yang baik. Sehingga untuk selanjutnya mereka mampu mencontoh tulisan-tulisan yang sudah ada.

Sebelum melakukan publikasi, saya memutuskan untuk tidak hanya membuatnya dalam bentuk majalah dinding. Saya juga ingin membuat semacam majalah/tabloid/sejenisnya sehingga bisa dibaca oleh khayalak banyak. Nama LAGARA saya pilih menjadi judul wadah kumpulan tulisan siswa tersebut. Lagara dalam bahasa lokal berarti rumput laut, komoditas utama masyarakat desa Kayang. Lagara kemudian saya kembangkan menjadi sebuah akronim dari Langkah Menggapai Juara. Sebuah nama yang saya harapkan memotivasi siswa untuk berkembang.

Setelah menyepakatinya dengan siswa, kami mulai mencetaknya menggunakan printer sekolah. Satu kami tempel di sekolah, satu kami berikan ke kepala UPTD, satu kepada kepala sekolah, dan beberapa kami edarkan di masyarakat. Saya tidak menyangka betapa antusiasnya respon kepala sekolah. Beliau menyuruh saya mencetak beberapa kopi dan akan menyebarkannya di beberapa sekolah di Kabupaten Alor dan memberikannya kepada kepala Dinas Pendidikan. Beliau bahkan membelikan sebuah printer baru disaat printer yang lama rusak.

Setelah sukses dengan edisi pertama, saya kembali mengumpulkan siswa untuk edisi selanjutnya. Ketua tim sudah diganti. Tema sudah ditentukan. Beberapa hari kemudian, beberapa tulisan sudah dikumpul. Tetapi kesibukan mempersiapkan kegiatan SMK CUP II, dan motivasi siswa yang mulai menurun, sampai akhir bulan, tulisan juga belum lengkap dikumpulkan.

Bulan-bulan berikutnya lebih berat lagi. Karena keterbatasan staff sekolah, kami harus mengerjakan banyak hal – pelaksanaan Ulangan Tengah Semester di mana kami harus mengetikkan soal beberapa guru dan mencetaknya, pelaksnaan SMK CUP II, pelaksanaan O2SN, mengajar persiapan UN di MTs Babul Rahmat Kangge dan lain-lain. Saya sangat menyesal dengan keterbatasan saya, padahal banyak materi yang siswa dapat tulis dan sebarkan.

Saya akui saya telah gagal melanjutkan program ini. Walau begitu, saya harap siswa, yang mungkin sekarang sudah tamat, mampu mendapatkan pelajaran dari program singkat tersebut. Dan juga, saya berharap suatu saat program ini bisa dilanjutkan kembali. Semoga LAGARA bisa ditanam kembali dan hidup lebih lama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s